Hai, Husseini Ramadhani
Selamat siang! Sudah makan?
Meski sebenarnya malu, ini, ada sepucuk surat untuk menemani
makan siangmu hari ini. Namun, sebelum aku menulis lebih banyak lagi, aku harus
mengatakan ini : Terpujilah Bapak Haji Slamet, Bapak Genter, Bapak Pele, Mas
Har dari Semarang, Mang Gogon, Ibu Penghuni Jalan Pathuk, Ibu Kardi, Ibu Di Belakang Permata, dan
bapak-ibu lainnya yang pada warung-warung mereka bersemian cerita bagaimana kita
jatuh cinta.
Ya, harus kita akui bahwa kisah cinta ini bersemi di antara
piring-piring nasi. Hanya berawal dari sering makan berdua, siapa yang
menyangka bahwa akhirnya kita akan menghabiskan sisa hidup bersama (hahaha).
Kini, setelah sejarah awal mula terbentuknya hubungan ini telah diketahui, tak akan sulit bagi yang lain untuk memahami. Mengapa dari
semua permintaan yang mungkin kamu ajukan, satu hal ini lah yang kali pertama kamu
minta.
Ya, permintaanmu satu saja, namun membangkitkan seluruh
waspada. Bagaimana tidak? Katamu, aku harus bisa masak apa saja. Segala makanan
yang kamu suka dengan standar setingkat mama (Baiklah, kamu tidak mengatakannya. Tapi kan kamu terbiasa dengan masakan enak mama). Nah, habis sudah
perkara. Kamu sendiri tahu bagaimana aku menderita disorientasi rasa.
Namun kamu harus tenang dan percaya. Karena seperti yang kutulis dalam paragraf
kedua pada surat cinta bulan pertama, untukmu aku mau belajar masak. Jadi, jika
nanti sopku asin atau sambalku manis saja, jangan terlalu cepat mengambil
praduga. Bukan garam atau gula, mungkin aku terlalu banyak membubuhkan cinta.
Nah, itu saja surat untuk hari ini. Karena belum dapat
menghadiahimu masakan lezat, kutemani makan siangmu kali ini dengan
kalimat-kalimat yang kuracik dengan cermat. Semoga saja makan siangmu makin
nikmat. Oh ya, hampir lupa, selamat tanggal empat!
Dari,
Chef Masa Depan
Ini nominasi 2 :D *nyampah di blog ayang yoben* :p
ReplyDeleteUhuuuuuy sikasik! Sering-sering nyampah aja gapapa dit kusenang hahahahaha
Delete