Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Berteman Dengan Hujan

Pada detik-detik yang melar dan merangkak ini, hujan merintik perlahan dengan diam dalam sunyi. Merupa tiada, hanya memperlihatkan dirinya sebagai gemerisik di antara dedaunan pohon nangka dan tetesan air di pelimbahan genteng tetangga. Pada sore yang abu-abu nan syahdu ini, kupikir aku mau berteman dengan hujan. Berdamai dengan gigilnya yang membuat ngilu sekaligus candu. Mungkin tidak sebagai kawan tempat berbagi pelukan dan meminta dekapan. Hanya sebatas teman duduk berdampingan yang saling berbagi bahan perenungan. Mungkin itu saja sudah cukup bagi kami. Bagiku dan hujan. Mungkin tidak perlulah bagi hujan menggelitiki basah lengan dan kakiku. Dan tidak perlu aku meninju-ninju lucu. Cukup bagi kami untuk saling menyapa pada satu dua rintik pertama. Lalu biarkan kami sekedar duduk bersama, melebur dalam waktu namun tidak ruang yang sama.

Pertengahan Bulan Empat

Malam itu ia duduk di seberangku. Tak ada yang istimewa karena biasanya pun begitu. Namun malam itu, ketika ia mendekatkan kepala dan membicarakan angka, kutemukan jantungku berdetak cepat dan kehilangan irama. Kalian sebut ini apa?

Surat Balasan

Kepada @ozzyhfz yang telah berbaik hati mengulas suratku yang cuma satu. Aku membaca suratmu dan merasa malu, teringat akan konsistensiku dalam tidak konsisten menulis. Tapi kumohon biarkanlah. Karena sejatinya tiap prosaku tidak hanya lahir bersama nama tapi juga makna. Bahwa tiap pilihan kata dan metafora adalah benar adanya, pada mereka kugantungkan kisah-kisah tak terbaca. Jadi mafhumlah jika aku tak pandai menulis dengan tangan, karena ternyata sulit sekali untuk tak menyertakan hati dan juga kenangan. Demikianlah yang dapat aku sampaikan. Suratku tidak panjang dan tidak mengandung janji. Tapi terimakasih, telah berhasil membuatku menulis lagi.

Surat Nomor Urut Satu

Ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Bukan pula surat cintaku yang paling mesra. Hanya surat lain untukmu, yang akan kubiarkan tetap tak bernama. Hanya surat lain yang tidak akan kamu baca. Namun jika ketidakterbatasan semesta dapat membuatmu membaca surat ini, kamu harus tahu, kamu harus mengerti, bahwa inilah caraku untuk berhenti. Berhenti berlari dari keapa-apaanku yang mengikuti kesana-kemari. Menanggalkan satu per satu lapisan penahan yang aku banggakan. Membiarkan diriku terbaca. Membiarkan yang lain tahu bahwa lukaku memang menganga. Sekarang kamu tahu, akan ada kamu di sini dan di situ, di #30HariMenulisSuratCinta milikku. Kisahku dan kisahmu -kisah kita- adalah kisah cinta yang panjang. Kisah dengan baris-baris manis untuk dikenang. Kisah tentang adanya kemungkinan untuk bertahan. Kisah dengan akhir yang coba kita menangkan, namun gagal. Kau, adalah kisah yang paling kuhapal. Yang lembarannya kubolak-balik hingga kumal. Yang kubaca berlama-lama meski pada akhirnya aku...