Juni 2015
Dari Meninha kepada Biru
Pagi ini aku terbangun dari mimpi yang aneh sekali. Di dalamnya kamu menjulurkan tangan lagi, dan mencoba mengusap pipi, dengan cara yang sama seperti terakhir kali.
Maka di pangkal pagi ini, kuabadikan cintaku padamu melalui doa-doa di ujung sujudku. Yang kuuntai dengan damai, yang berpilin pelan menuju angkasa tempat mereka meninggalkan wujudnya sebagai kata. Mengukirkan tanda cinta tidak kasat mata pada atap-atap surga. Sebagai pendar dari hadiah terindah tanpa pita yang pernah kau hantarkan secara sederhana.
Bukan, bukan cincin perak bermata lima hasil kamu menabung di kelas dua. Bukan pula beratus-ratus foto yang kamu tata dengan penuh sabarnya di sepanjang liburan semester tiga. Mereka semua indah, namun oleh yang satu ini, mereka jelas kalah.
Ia adalah hadiah yang tanpa sadar kamu berikan. Sederhana saja, sebuah kalimat yang kamu ucapkan sekenanya. beberapa lama jaraknya setelah tanggal dua. "Aku masih mendoakanmu di akhir Solat Jumatku," katamu.
Terimakasih, kenangku.
Maka, ini dia aminku. Semoga-bahagia-selalu yang kurapal di antara tiap namamu, yang menggema tanpa sengaja pada nafas-nafas di sepanjang tidur lelapku semalam. Yang telah membungkus pagi saat kesadaran akhirnya datang.
Namun sebagaimana amin seharusnya berada, mari kita jadikan surat ini sebagai titik penanda. Sebagai penutup dari serangkaian panjang doa yang beribu-ribu hari lamanya. Doa bahwa selanjutnya, hidup akan baik-baik saja.
Biru, semoga bahagia selalu.
Amin.
Aku pengen ngasih postingan terfavorit dari 30 suart di blog ini deh rasanya. Ini nominasi pertama ya :D
ReplyDelete