Hai, Ksatria
Ku dengar, mereka yang akhir-akhir ini sudah tumbuh dewasa sangat menyukai cerita sedih yang membicarakan duka. Tidak seperti Aku kecil yang terlelap tidur menggulingi dongeng-dongeng putri yang harus bahagia, kini banyak dari kita yang suka mendengar dongeng dengan luka dimana-mana. Semakin mirip bentuk lukanya, semakin suka. Demi itu, aku teringat kisah yang banyak melibatkan angka dua.
Ya, Ksatria, aku tidak lagi merayakan Dua Puluh seperti dahulu kala. Melainkan masih terus saja mengenang, tentu dengan mudah kamu menduga, tanggal Dua. Sebagai plakat pengingat bahwa tidak semua kisah berakhir bahagia. Bahwa tidak semua putri dan ksatria dapat hidup bersama selamanya. Bahwa ternyata Aku, dalam kisah ini, bukanlah putri penghuni istana tempat kau akan menghabiskan masa tua. Namun tak apa, mari sini kita minum kopi dan bercerita sambil menunggu kapan senja tiba.
Pada zaman dahulu kala, hiduplah Aku, seorang putri yang percaya bahwa kisahnya adalah yang paling sempurna. Bagaimana tidak, Ksatria telah datang dan semuanya tampak baik-baik saja. Kisah mereka melegenda hingga terdengar ke seluruh penjuru padang sabana, di puncak-puncak bukit dan lembahnya, di sela pohon-pohon pinus tua, hingga ke tebing-tebing pinggir pantai yang bergoa. Semua tampak memesona hingga sampailah kita di penghujung halaman pembuka. Ya, siapa yang menyangka bahwa kisah indah itu hanyalah prolog panjang yang terjela. Bahwa kisah Aku dan Ksatria bukanlah cerita utama. Bahwa bab selanjutnya masih menanti untuk dibaca.
Demikianlah, Ksatria. Kisah yang tidak perlu mengandung banyak darah karena aku telah muak dengan bau anyirnya. Kisah yang tidak akan kuakhiri dengan duka karena aku masih percaya tidak ada akhir yang tidak bahagia.
Kini, telah berbelas-belas banyaknya Dua yang aku kenang dalam berbagai sudut pandang yang berbeda. Jika boleh aku berkata, telah kucicipi rasa kopi ini dari sisi cangkir mana saja. Tidak ada sisi cangkir yang membuat rasanya menjadi lebih manis, namun pada akhirnya kopi itupun habis.
Lama pula halaman itu jadi pengantar tidur dan bangunku. Ia yang jauh sebelum itu telah kumal dan dikusutkan waktu, kini tampak semakin kuyu. Hingga di suatu titik di satu sudut halaman, aku sadar bahwa pastilah bukan ini akhir cerita. Bisa jadi, ini adalah awal dari akhir yang bahagia. Maka, bersama kopi yang menyisakan ampas, kuhabiskan halaman ini hingga tuntas. Agar kopi kita tidak terlanjur basi dan meracuni, agar halaman ini tidak terlalu koyak dimakan masa sehingga masih layak untuk dikenang pada bab Tua.
Sebagaimana cangkir harus dikosongkan dan diseduh dengan kopi baru, halaman itupun berakhir sampai di situ, lalu aku membuka lembar baru.
Wah, wah, lihatlah Ksatria. Sudah habis pula isi cangkirmu. Mari, kita seduh kopi baru.
Ku dengar, mereka yang akhir-akhir ini sudah tumbuh dewasa sangat menyukai cerita sedih yang membicarakan duka. Tidak seperti Aku kecil yang terlelap tidur menggulingi dongeng-dongeng putri yang harus bahagia, kini banyak dari kita yang suka mendengar dongeng dengan luka dimana-mana. Semakin mirip bentuk lukanya, semakin suka. Demi itu, aku teringat kisah yang banyak melibatkan angka dua.
Ya, Ksatria, aku tidak lagi merayakan Dua Puluh seperti dahulu kala. Melainkan masih terus saja mengenang, tentu dengan mudah kamu menduga, tanggal Dua. Sebagai plakat pengingat bahwa tidak semua kisah berakhir bahagia. Bahwa tidak semua putri dan ksatria dapat hidup bersama selamanya. Bahwa ternyata Aku, dalam kisah ini, bukanlah putri penghuni istana tempat kau akan menghabiskan masa tua. Namun tak apa, mari sini kita minum kopi dan bercerita sambil menunggu kapan senja tiba.
Pada zaman dahulu kala, hiduplah Aku, seorang putri yang percaya bahwa kisahnya adalah yang paling sempurna. Bagaimana tidak, Ksatria telah datang dan semuanya tampak baik-baik saja. Kisah mereka melegenda hingga terdengar ke seluruh penjuru padang sabana, di puncak-puncak bukit dan lembahnya, di sela pohon-pohon pinus tua, hingga ke tebing-tebing pinggir pantai yang bergoa. Semua tampak memesona hingga sampailah kita di penghujung halaman pembuka. Ya, siapa yang menyangka bahwa kisah indah itu hanyalah prolog panjang yang terjela. Bahwa kisah Aku dan Ksatria bukanlah cerita utama. Bahwa bab selanjutnya masih menanti untuk dibaca.
Demikianlah, Ksatria. Kisah yang tidak perlu mengandung banyak darah karena aku telah muak dengan bau anyirnya. Kisah yang tidak akan kuakhiri dengan duka karena aku masih percaya tidak ada akhir yang tidak bahagia.
Kini, telah berbelas-belas banyaknya Dua yang aku kenang dalam berbagai sudut pandang yang berbeda. Jika boleh aku berkata, telah kucicipi rasa kopi ini dari sisi cangkir mana saja. Tidak ada sisi cangkir yang membuat rasanya menjadi lebih manis, namun pada akhirnya kopi itupun habis.
Lama pula halaman itu jadi pengantar tidur dan bangunku. Ia yang jauh sebelum itu telah kumal dan dikusutkan waktu, kini tampak semakin kuyu. Hingga di suatu titik di satu sudut halaman, aku sadar bahwa pastilah bukan ini akhir cerita. Bisa jadi, ini adalah awal dari akhir yang bahagia. Maka, bersama kopi yang menyisakan ampas, kuhabiskan halaman ini hingga tuntas. Agar kopi kita tidak terlanjur basi dan meracuni, agar halaman ini tidak terlalu koyak dimakan masa sehingga masih layak untuk dikenang pada bab Tua.
Sebagaimana cangkir harus dikosongkan dan diseduh dengan kopi baru, halaman itupun berakhir sampai di situ, lalu aku membuka lembar baru.
Wah, wah, lihatlah Ksatria. Sudah habis pula isi cangkirmu. Mari, kita seduh kopi baru.
Comments
Post a Comment