Kepada @wiwikwal , ibu dari tiga anak yang senang menulis
untuk berbagi inspirasi dan manfaat.
Selamat siang, Bunda.
Eh, bolehkah saya memanggil bunda dengan “bunda”? Semoga
boleh ya, hehe.
Bunda, kaget tidak mendapat surat dari entah berantah di
tengah siang bolong seperti ini? Maaf jika terlalu mengagetkan. Maaf juga
karena surat ini datang dari saya yang berniat merepotkan. Kalau bunda
berkenan, saya ingin menitipkan sebuah surat untuk Anna. Ya, Anna. Anna yang
suka mengirimkan surat kepada Tobi. Anna ponakan dari Bibi Selena. Harus saya
titipkan kepada bunda karena saya tidak tahu lagi harus dikirim kemana. Selain
itu, bunda adalah satu-satunya orang yang saya tahu yang mengenal Anna. Semoga
bunda sempat dan berkenan menyampaikannya. Sebelum dan sesudahnya, terimakasih
ya bunda.
Dari,
Pengunjung Setia Kebun Bunda
...
Kepada
: Anna
Hai, Anna! Salam hangat sekaligus doa semoga kau baik-baik
di sana.
Sebelumnya, tidak apa jika kamu tidak tahu aku ini siapa.
Kamu bukannya lupa, namun kita memang belum pernah berjumpa. Lalu mungkin kamu
bertanya-tanya, bagaimana aku mengenalmu, Anna? Aku mengenalmu setelah
berkunjung ke sebuah kebun. Kebun yang penuh dengan seladang aksara. Itu,
adalah kebun milik Bunda Wiwik agaknya. Nah, dari kunjungan itu aku mendengar
kisah tentangmu, Anna. Atau mungkin lebih tepatnya membaca kisahmu dari
surat-surat yang kau kirimkan.
Apakah kau marah setelah tahu aku suka membaca surat-surat
yang kau kirimkan pada Tobi? Jika iya, tolong terima maafku, Anna. Maaf namun
sekaligus terimakasih. Terimakasih karena surat-suratmu kepada Tobi membuatku jadi
semangat menulis lagi. Aku kurang mengerti mengapa, namun agaknya karena kita
punya beberapa hal yang cenderung sama. Satu di antaranya adalah sama
sepertimu, aku suka merindu. Selain itu, aku juga suka bersurat. Ah, dan tentu
saja kita sama dalam hal bercita-cita.
Ya, sama sepertimu aku juga suka menulis dan ingin membuat
sebuah buku. Bedanya, tidak harus buku Lima Sekawan seperti yang kamu dan Tobi
perebutkan. Bagiku, yang penting ia disampul menjadi satu dalam bentuk buku.
Dan sama sepertimu, aku juga pernah ditertawakan karena cita-citaku.
Hari itu, aku dan teman-teman berkunjung ke sebuah yayasan
anak-anak tertentu. Di hadapan anak-anak di sana kami diminta menyebutkan nama dan cita-cita. Saat tiba giliranku, kusebut saja punyaku adalah menulis buku. Teman-temanku
tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Kenapa kuliah teknik kalau ingin
menulis buku saja?”. Aku tersenyum dan mafhum, karena ia benar juga. Maklumlah,
kami adalah mahasiswa-mahasiswa Teknik Perminyakan di sebuah universitas yang
dulu swasta. Tentulah hampir semua yang datang ke sana menyebutkan cita-cita
sebagai insinyur yang sukses muda.
Sebenarnya, seperti halnya mereka, aku juga punya keinginan
yang sama. Namun aku tidak menyebutnya sebagai cita-cita. Bukan, bukan berarti
aku menyesal telah mengambil jalan ini. Banyak sekali ilmu yang aku peroleh
dari sini, Anna. Hanya saja, ada bagian dari diriku yang ingin kubiarkan
mengembara. Pergi bebas tanpa perlu terbatas realitas.
Mendengarmu berhasil menulis naskah dan membukukannya,
membuatku semangat menulis juga. Mungkin Tobi ada benarnya, tidak butuh tiang
untuk menggantungkan harapan. Mungkin aku hanya perlu percaya dan menciptakan
kesempatan. Kamu setuju denganku Anna?
Nah, sekian saja surat dariku. Terimakasih telah membaca dan
juga berbagi cerita. Doakan, ya, semoga aku dapat segera menyusulmu mewujudkan
cita-cita.
Best Regards,
Meninha.
tes, wah susah sekali komen disini...
ReplyDeletenah, terimakasi Yayang, untuk surat teramat manis ini. suratmu ini menjadi hal terbaik yang terjadi sepanjang hari, kemarin. Anna senang sekali mendapatkan teman baru. katanya, kapan-kaan datanglah ke kebun paman lintar, nanti petik jeruk bareng dan baca buku di tengah ladang yang sejuk. tetap semangat yayang, tak peduli seberapa lambat/cepat lajumu untuk mewujudkan mimpi2, selama kau terus bergerak, yakinlah itu akan sampai. mari kita peluk mimpi-mipi kita...
ReplyDelete