Skip to main content

Posts

Untuk Tamu

Hari ini adalah Hari Kamis, 8 Juli 2021. Sudah 3 hari aku mendekam di dalam kamar hotel seorang diri dan mulai kehabisan akal perihal cara menghibur diri. Dengan acaknya aku membuka akun tumblr-ku yang sudah lama mati suri. Membuka-buka draft-nya yang berdebu dan menemukan sebuah surat yang tak sempat terkirim. Surat balasan untuk seseorang yang mestinya kukirim sejak, entahlah, sepertinya 4 tahun yang lalu. Surat yang awalnya ingin kusampaikan melalui akun rahasiaku itu. Saat itu aku ragu apakah tepat untuk mengunggah surat itu, apakah aku benar bisa mengundangnya ke ruang rahasiaku itu. Kupikir-pikir seribu kali hingga akhirnya terlupakan, hingga hari ini. Kini, aku tak lagi bisa mengirimnya lewat akun rahasiaku, dan mungkin orang yang dituju tidak akan pernah lagi berkunjung ke sini, lalu surat ini akan berakhir tidak terbaca. Atau mungkin memang seharusnya kusimpan di draft saja. Tak apa lah, ya, anggap saja pengingat tentang getirnya masa muda. ------- Halo! Silahkan masuk, dan du...
Recent posts

Kata-kata

Kalau ada seseorang yang pada suatu saat sempat bertanya padaku, apa menurutmu ciptaan manusia yang paling hebat? Aku akan menjawabnya dengan senang hati, bahkan dengan penjelasan yang panjang seperti berikut ini : Menurutku, hal paling hebat yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia adalah kata-kata. Ia adalah satu-satunya hal yang dapat kita setujui bersama. Kita mungkin berbeda pendapat tentang agama, perdamaian, feminisme, politik, atau ada tidaknya kehidupan di galaksi lain. Namun kita sama dalam satu hal, berkata-kata. Kita menyetujui bahwa ia ada meski sungguh tak ada wujudnya. Kata-kata ada karena kita menyetujuinya bersama. Kata-kata adalah bukti paling nyata bahwa manusia adalah makhluk sosial, tidak dapat hidup hanya dengan kata-katanya sendiri. Kata-kata harus dibagi. Bersama kata-kata, manusia bertoleransi. Kata-kata adalah konsep abstrak mengenai ekistensi dengan eksistensinya sendiri. Kata-kata menyatukan sekaligus memisahkan. Kata-kata, terbukti selama berabad-aba...

Titip Surat Untuk Anna

Kepada @wiwikwal , ibu dari tiga anak yang senang menulis untuk berbagi inspirasi dan manfaat. Selamat siang, Bunda. Eh, bolehkah saya memanggil bunda dengan “bunda”? Semoga boleh ya, hehe. Bunda, kaget tidak mendapat surat dari entah berantah di tengah siang bolong seperti ini? Maaf jika terlalu mengagetkan. Maaf juga karena surat ini datang dari saya yang berniat merepotkan. Kalau bunda berkenan, saya ingin menitipkan sebuah surat untuk Anna. Ya, Anna. Anna yang suka mengirimkan surat kepada Tobi. Anna ponakan dari Bibi Selena. Harus saya titipkan kepada bunda karena saya tidak tahu lagi harus dikirim kemana. Selain itu, bunda adalah satu-satunya orang yang saya tahu yang mengenal Anna. Semoga bunda sempat dan berkenan menyampaikannya. Sebelum dan sesudahnya, terimakasih ya bunda. Dari, Pengunjung Setia Kebun Bunda ... Kepada : Anna Hai, Anna! Salam hangat sekaligus doa semoga kau baik-baik di sana. Sebelumnya, tidak apa jika kamu tidak tahu aku ini siapa....

Surat Dari Dapur

Hai, Husseini Ramadhani Selamat siang! Sudah makan? Meski sebenarnya malu, ini, ada sepucuk surat untuk menemani makan siangmu hari ini. Namun, sebelum aku menulis lebih banyak lagi, aku harus mengatakan ini : Terpujilah Bapak Haji Slamet, Bapak Genter, Bapak Pele, Mas Har dari Semarang, Mang Gogon, Ibu Penghuni Jalan Pathuk, Ibu Kardi, Ibu Di Belakang Permata, dan bapak-ibu lainnya yang pada warung-warung mereka bersemian cerita bagaimana kita jatuh cinta. Ya, harus kita akui bahwa kisah cinta ini bersemi di antara piring-piring nasi. Hanya berawal dari sering makan berdua, siapa yang menyangka bahwa akhirnya kita akan menghabiskan sisa hidup bersama (hahaha). Kini, setelah sejarah awal mula terbentuknya hubungan ini telah diketahui, tak akan sulit bagi yang lain untuk memahami. Mengapa dari semua permintaan yang mungkin kamu ajukan, satu hal ini lah yang kali pertama kamu minta. Ya, permintaanmu satu saja, namun membangkitkan seluruh waspada. Bagaimana tidak? Katam...

Surat Dari Meninha

Juni 2015 Dari Meninha kepada Biru Pagi ini aku terbangun dari mimpi yang aneh sekali. Di dalamnya kamu menjulurkan tangan lagi, dan mencoba mengusap pipi, dengan cara yang sama seperti terakhir kali. Maka di pangkal pagi ini, kuabadikan cintaku padamu melalui doa-doa di ujung sujudku. Yang kuuntai dengan damai, yang berpilin pelan menuju angkasa tempat mereka meninggalkan wujudnya sebagai kata. Mengukirkan tanda cinta tidak kasat mata pada atap-atap surga. Sebagai pendar dari hadiah terindah tanpa pita yang pernah kau hantarkan secara sederhana. Bukan, bukan cincin perak bermata lima hasil kamu menabung di kelas dua. Bukan pula beratus-ratus foto yang kamu tata dengan penuh sabarnya di sepanjang liburan semester tiga. Mereka semua indah, namun oleh yang satu ini, mereka jelas kalah. Ia adalah hadiah yang tanpa sadar kamu berikan. Sederhana saja, sebuah kalimat yang kamu ucapkan sekenanya. beberapa lama jaraknya setelah tanggal dua. "Aku masih mendoakanmu di akh...

Dongeng Dua

Hai, Ksatria Ku dengar, mereka yang akhir-akhir ini sudah tumbuh dewasa sangat menyukai cerita sedih yang membicarakan duka. Tidak seperti Aku kecil yang terlelap tidur menggulingi dongeng-dongeng putri yang harus bahagia, kini banyak dari kita yang suka mendengar dongeng dengan luka dimana-mana. Semakin mirip bentuk lukanya, semakin suka. Demi itu, aku teringat kisah yang banyak melibatkan angka dua. Ya, Ksatria, aku tidak lagi merayakan Dua Puluh seperti dahulu kala. Melainkan masih terus saja mengenang, tentu dengan mudah kamu menduga, tanggal Dua. Sebagai plakat pengingat bahwa tidak semua kisah berakhir bahagia.  Bahwa tidak semua putri dan ksatria dapat hidup bersama selamanya. Bahwa ternyata Aku, dalam kisah ini, bukanlah putri penghuni istana tempat kau akan menghabiskan masa tua. Namun tak apa, mari sini kita minum kopi dan bercerita sambil menunggu kapan senja tiba. Pada zaman dahulu kala, hiduplah Aku, seorang putri yang percaya bahwa kisahnya adalah yang paling se...

Sedang Tampan-tampannya

Malam itu cerah. Tidak kuingat apakah bintang yang sedang meriah atau bulan malam itu merah. Karena semua atensiku habis sudah, mereka singgah di matamu kemudian betah. Kita selalu memilih duduk berdampingan dan bukannya berhadapan. Karena dengan duduk bersisian, jarak termampatkan dan, terutama, tak perlu mengulurkan tangan untuk diam-diam saling menggenggam. Namun malam ini berbeda, aku sengaja mengambil jeda karena kamu sedang tampan-tampannya. Malam ini jaketmu hijau tua. Celanamu khaki hingga di batas atas lututmu. Sandalmu jepit saja, ukuran paling besar dan mulai kepayahan menahan gempuran kaki raksasa. Rambutmu mulai panjang dan terlihat coklat kadang-kadang. Jambangmu mulai lebat dan tidak perlu terburu-buru dibebat karena oleh jeratnyalah aku tertambat. Namun di atas semua, tawalah juaranya. Tawa yang membuatku jatuh cinta pada setiap pangkal dan ujungnya. Malam ini aku menarik kursi dan duduk di hadapannya. Tidak ingin mengalihkan mata, mungkin karena kamu sedang tampa...