Hari ini adalah Hari Kamis, 8 Juli 2021. Sudah 3 hari aku mendekam di dalam kamar hotel seorang diri dan mulai kehabisan akal perihal cara menghibur diri. Dengan acaknya aku membuka akun tumblr-ku yang sudah lama mati suri. Membuka-buka draft-nya yang berdebu dan menemukan sebuah surat yang tak sempat terkirim. Surat balasan untuk seseorang yang mestinya kukirim sejak, entahlah, sepertinya 4 tahun yang lalu. Surat yang awalnya ingin kusampaikan melalui akun rahasiaku itu.
Saat itu aku ragu apakah tepat untuk mengunggah surat itu, apakah aku benar bisa mengundangnya ke ruang rahasiaku itu. Kupikir-pikir seribu kali hingga akhirnya terlupakan, hingga hari ini. Kini, aku tak lagi bisa mengirimnya lewat akun rahasiaku, dan mungkin orang yang dituju tidak akan pernah lagi berkunjung ke sini, lalu surat ini akan berakhir tidak terbaca. Atau mungkin memang seharusnya kusimpan di draft saja. Tak apa lah, ya, anggap saja pengingat tentang getirnya masa muda.
-------
Halo! Silahkan masuk, dan duduk. Maaf, ya, kalau agak berdebu di sini. Maklum, laman ini jarang diisi. Maklum juga kalau agak kurang rapi, karena memang tidak ada niat untuk dikunjungi. Tapi bukankah lebih nyaman di sini? Sepi, tidak ada yang bisa mencuri dengar perbincangan ini.
Maaf, ya, jika surat balasan ini lama datangnya –walaupun mungkin kau tidak mengharap balasan juga. Ada hal-hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu hingga baru sekarang aku bisa dengan tenang menulis balasan yang kuharap pantas untuk cerita yang telah mau kau bagi denganku itu. Sayang sekali, ya, kita belum pernah diperkenalkan secara resmi. Padahal kalau sudah, mungkin ada banyak hal yang bisa kita bagi. Buku-buku favoritmu, penulis-penulis favoritku, apa yang kami bicarakan di sini seandainya kau ingin tahu, atau bagaimana kamu menyelesaikan sketsa-sketsa itu (mereka cantik!).
Tidak hanya aku, sesungguhnya teman-temanku juga berharap akan ada kesempatan untuk bertemu secara langsung denganmu, agar tidak mengenalmu dari cerita K melulu ;) Tapi bagaimanalah, ternyata semesta tidak menyiapkan waktu dan tempat. Ia mempertemukan kita dari surat ke surat. Sebelumnya aku harus minta maaf karena salam pertamaku beberapa waktu lalu pastinya bukanlah salam terbaik yang pernah kau terima.
Sesungguhnya aku sedikit terkejut, dan banyak bingungnya. Mengapa, dan bagaimana. Jadi terimakasih telah membalas salamku yang tidak baik itu dengan sangat baik, bahkan membagi kisah yang pasti tidak mudah. Bicara soal apa yang kau ceritakan di sana, sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa. Lama aku termenung di ujungnya, mereka-reka berapa banyak luka yang tak dapat kau tulis dalam kata. Menerka-nerka betapa berat waktu itu bagimu dan bagaimana kau berhasil melaluinya. Lalu aku sampai pada satu kesimpulan, kau pasti lebih kuat dari yang aku duga. Tidak banyak yang aku tau tentangmu, tapi satu adalah kesabaranmu dalam menunggu. Menunggu A dengan kesibukannya yang seribu satu, kesibukannya mengulurkan tangan ke sini dan ke situ. Apakah kau tahu? Di sini, A selalu jadi orang yang diandalkan di segala lini. Tempat orang-orang meminta bantu soal itu dan ini, mulai dari menjadi guru akademi hingga suka rela menjadi kuli.
Sungguh ironi ya, ketika ia justru tak dapat hadir mengulurkan bahu di saat-saat terberatmu. Membuatku bertanya-tanya, seandainya saja aku satu tahun lebih cepat berkunjung ke berandamu, mungkin ada banyak hal yang bisa diperbaiki? Ah, bicara apa aku ini. Yang terpenting sekarang adalah bahwa kini kau baik-baik saja. Tulus dari dalam hati, aku berharap hidupmu bahagia, sebahagia yang kamu bisa!
Comments
Post a Comment