Skip to main content

Posts

Pertengahan Bulan Empat

Malam itu ia duduk di seberangku. Tak ada yang istimewa karena biasanya pun begitu. Namun malam itu, ketika ia mendekatkan kepala dan membicarakan angka, kutemukan jantungku berdetak cepat dan kehilangan irama. Kalian sebut ini apa?

Surat Balasan

Kepada @ozzyhfz yang telah berbaik hati mengulas suratku yang cuma satu. Aku membaca suratmu dan merasa malu, teringat akan konsistensiku dalam tidak konsisten menulis. Tapi kumohon biarkanlah. Karena sejatinya tiap prosaku tidak hanya lahir bersama nama tapi juga makna. Bahwa tiap pilihan kata dan metafora adalah benar adanya, pada mereka kugantungkan kisah-kisah tak terbaca. Jadi mafhumlah jika aku tak pandai menulis dengan tangan, karena ternyata sulit sekali untuk tak menyertakan hati dan juga kenangan. Demikianlah yang dapat aku sampaikan. Suratku tidak panjang dan tidak mengandung janji. Tapi terimakasih, telah berhasil membuatku menulis lagi.

Surat Nomor Urut Satu

Ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Bukan pula surat cintaku yang paling mesra. Hanya surat lain untukmu, yang akan kubiarkan tetap tak bernama. Hanya surat lain yang tidak akan kamu baca. Namun jika ketidakterbatasan semesta dapat membuatmu membaca surat ini, kamu harus tahu, kamu harus mengerti, bahwa inilah caraku untuk berhenti. Berhenti berlari dari keapa-apaanku yang mengikuti kesana-kemari. Menanggalkan satu per satu lapisan penahan yang aku banggakan. Membiarkan diriku terbaca. Membiarkan yang lain tahu bahwa lukaku memang menganga. Sekarang kamu tahu, akan ada kamu di sini dan di situ, di #30HariMenulisSuratCinta milikku. Kisahku dan kisahmu -kisah kita- adalah kisah cinta yang panjang. Kisah dengan baris-baris manis untuk dikenang. Kisah tentang adanya kemungkinan untuk bertahan. Kisah dengan akhir yang coba kita menangkan, namun gagal. Kau, adalah kisah yang paling kuhapal. Yang lembarannya kubolak-balik hingga kumal. Yang kubaca berlama-lama meski pada akhirnya aku...

Biru

Aku suka biru. Karena dia sendu sekaligus baru. Aku suka biru. Karena kamu adalah laki-laki berbaju biru dalam ingatanku. Aku suka biru. Karena dia punya huruf U, U yang sama yang ada dalam namamu. Sesederhana itu. Kamu adalah biru dengan gradasi seribu satu. Kamu adalah birunya lautan, gunung, dan langit yang dijadikan satu. Kamu ada di sini dan di situ. Birumu luas, tak berbatas, tanpa petunjuk arah dan aku tersesat di dalamnya. I’m in you, I’m im blue. Birumu membekas dimana-mana. Meninggalkan jejak pada setiap jengkal waktu dan ingatan. Tak terelakkan. Birumu di sini, birumu di sana. Ya, kamu ada di mana-mana, namun ternyata, semu semata. " Oh, you. You turn my whole life so blue. Drowning me so deep. I just can't reach myself again ."-You, Ten 2 Five

Jarak

Ia menjauhkan dua hati dan membiaskan arti. Ia menggantikan kekosongan dan mengaburkan kenangan. Menyusup perlahan hingga membentang seluas lapangan. Teman terbaik waktu dalam hal merebutmu. Ia yang setia menggantikan ketidakhadiranmu, merampas sedikit realita tempatku berpijak, mendesak dan mendepak. Namanya jarak. Soal jarak menjarak ini sungguh delusional. Seringkali batasnya tidak masuk akal. Kadang jauhnya hanya sejengkal, namun memisahkan dua hati dari pangkal ke pangkal. Kadang panjangnya antara sudut ruangan. Namun mampu menggelarkan harapan. Sungguh ternyata jarak ini begitu variatif. Rentangnya tentatif dan fluktuatif, namun memisahkan secara aktif. Sungguh ternyata jarak ini kekal adanya, berbaur antara nyata dan fana.

Wordgasme

Blog ini adalah sister blog dari blog sebelumnya yang telah mati dan tidak dapat dihidupkan kembali karena telah terjadi sebuah kesalahan yang mendasar. Didesak oleh kebutuhan si penulis untuk berbagi kata-katanya sendiri, lahirlah blog ini yang pada suatu malam diputuskan untuk diberi nama : Wordgasme. Bagi pembaca yang tidak dapat menemukan arti kata wordgasme dalam kamus bahasa, penulis akan mengutipkan pengertian kata ini dari sebuah kamus yang boleh dipercaya: "Wordgasme (eng: wordgasm) adalah rasa puncak dalam berkata-kata; kenikmatan yang didapat saat menemukan kata yang tepat." Kata-kata, seperti puzzle, menunggu untuk dipecahkan. Harus disusun dengan benar agar terbentuk gambar. Memilih kata-kata, adalah permainan citarasa. Butuh koki ahli untuk rasa yang sempurna. Jadi, selamat datang di dapur kata-kata. Tempat aku menguji coba resep rasa dan memanggang seloyang prosa. Belajar menjadi koki kata dan menemukan puncak rasa. Karena pada saat menulis, aku tidak hanya m...