Kepada @ozzyhfz yang telah berbaik hati mengulas suratku yang cuma satu.
Aku membaca suratmu dan merasa malu, teringat akan konsistensiku dalam tidak konsisten menulis. Tapi kumohon biarkanlah. Karena sejatinya tiap prosaku tidak hanya lahir bersama nama tapi juga makna. Bahwa tiap pilihan kata dan metafora adalah benar adanya, pada mereka kugantungkan kisah-kisah tak terbaca. Jadi mafhumlah jika aku tak pandai menulis dengan tangan, karena ternyata sulit sekali untuk tak menyertakan hati dan juga kenangan.
Demikianlah yang dapat aku sampaikan. Suratku tidak panjang dan tidak mengandung janji. Tapi terimakasih, telah berhasil membuatku menulis lagi.
Comments
Post a Comment