Ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Bukan pula surat cintaku yang paling mesra. Hanya surat lain untukmu, yang akan kubiarkan tetap tak bernama. Hanya surat lain yang tidak akan kamu baca.
Namun jika ketidakterbatasan semesta dapat membuatmu membaca surat ini, kamu harus tahu, kamu harus mengerti, bahwa inilah caraku untuk berhenti. Berhenti berlari dari keapa-apaanku yang mengikuti kesana-kemari. Menanggalkan satu per satu lapisan penahan yang aku banggakan. Membiarkan diriku terbaca. Membiarkan yang lain tahu bahwa lukaku memang menganga.
Sekarang kamu tahu, akan ada kamu di sini dan di situ, di #30HariMenulisSuratCinta milikku.
Kisahku dan kisahmu -kisah kita- adalah kisah cinta yang panjang. Kisah dengan baris-baris manis untuk dikenang. Kisah tentang adanya kemungkinan untuk bertahan. Kisah dengan akhir yang coba kita menangkan, namun gagal.
Kau, adalah kisah yang paling kuhapal. Yang lembarannya kubolak-balik hingga kumal. Yang kubaca berlama-lama meski pada akhirnya aku tiba di sana, di halaman paling belakang.
Maka, di ujung lembarlah aku bertahan. Membaca segan, menulis enggan. Karena menulis akan mengakhirimu. Menulis, membutuhkan kertas baru.
Jadi, ucapkan selamat atas plakat keberanianku. Menulis, meski melulu masih soal kamu.
Mari berharap ketigapuluh surat cintaku tidak hanya berakhir di kotak suratmu yang tak terbaca.
Mari, kita beri surat ini nomer urut satu.
Comments
Post a Comment