Skip to main content

Surat Nomor Urut Satu

Ini bukanlah surat cintaku yang pertama. Bukan pula surat cintaku yang paling mesra. Hanya surat lain untukmu, yang akan kubiarkan tetap tak bernama. Hanya surat lain yang tidak akan kamu baca.
Namun jika ketidakterbatasan semesta dapat membuatmu membaca surat ini, kamu harus tahu, kamu harus mengerti, bahwa inilah caraku untuk berhenti. Berhenti berlari dari keapa-apaanku yang mengikuti kesana-kemari. Menanggalkan satu per satu lapisan penahan yang aku banggakan. Membiarkan diriku terbaca. Membiarkan yang lain tahu bahwa lukaku memang menganga.

Sekarang kamu tahu, akan ada kamu di sini dan di situ, di #30HariMenulisSuratCinta milikku.

Kisahku dan kisahmu -kisah kita- adalah kisah cinta yang panjang. Kisah dengan baris-baris manis untuk dikenang. Kisah tentang adanya kemungkinan untuk bertahan. Kisah dengan akhir yang coba kita menangkan, namun gagal.

Kau, adalah kisah yang paling kuhapal. Yang lembarannya kubolak-balik hingga kumal. Yang kubaca berlama-lama meski pada akhirnya aku tiba di sana, di halaman paling belakang.
Maka, di ujung lembarlah aku bertahan. Membaca segan, menulis enggan. Karena menulis akan mengakhirimu. Menulis, membutuhkan kertas baru.

Jadi, ucapkan selamat atas plakat keberanianku. Menulis, meski melulu masih soal kamu.
Mari berharap ketigapuluh surat cintaku tidak hanya berakhir di kotak suratmu yang tak terbaca.

Mari, kita beri surat ini nomer urut satu.

Comments

Popular posts from this blog

Ditemukanmu

Aku ingin duduk di sampingmu. Termenung di bahumu. Tidak berbagi apa-apa lagi selain bunyi nafas dan waktu satu-satu. Aku ingin duduk di sampingmu. Meluruh di genggammu. Menikmati diam yang gaduh oleh seluruh iya dan tidakku. Mengeja kata demi kata tanpa harus takut tua karena aku abadi di dalamnya. Mengurut-urut lengangnya jalanan tanpa takut hilang karena aku tau aku akan ditemukan. Tersesat dalam ramainya bintang dengan tenang karena aku tau aku akan pulang. Karena kau akan menoleh melewati bahu, menemukanku di situ lalu mencium keningku. Dengan gemas bertanya, darimana saja aku mengembara.

Sedang Tampan-tampannya

Malam itu cerah. Tidak kuingat apakah bintang yang sedang meriah atau bulan malam itu merah. Karena semua atensiku habis sudah, mereka singgah di matamu kemudian betah. Kita selalu memilih duduk berdampingan dan bukannya berhadapan. Karena dengan duduk bersisian, jarak termampatkan dan, terutama, tak perlu mengulurkan tangan untuk diam-diam saling menggenggam. Namun malam ini berbeda, aku sengaja mengambil jeda karena kamu sedang tampan-tampannya. Malam ini jaketmu hijau tua. Celanamu khaki hingga di batas atas lututmu. Sandalmu jepit saja, ukuran paling besar dan mulai kepayahan menahan gempuran kaki raksasa. Rambutmu mulai panjang dan terlihat coklat kadang-kadang. Jambangmu mulai lebat dan tidak perlu terburu-buru dibebat karena oleh jeratnyalah aku tertambat. Namun di atas semua, tawalah juaranya. Tawa yang membuatku jatuh cinta pada setiap pangkal dan ujungnya. Malam ini aku menarik kursi dan duduk di hadapannya. Tidak ingin mengalihkan mata, mungkin karena kamu sedang tampa...

Kata-kata

Kalau ada seseorang yang pada suatu saat sempat bertanya padaku, apa menurutmu ciptaan manusia yang paling hebat? Aku akan menjawabnya dengan senang hati, bahkan dengan penjelasan yang panjang seperti berikut ini : Menurutku, hal paling hebat yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia adalah kata-kata. Ia adalah satu-satunya hal yang dapat kita setujui bersama. Kita mungkin berbeda pendapat tentang agama, perdamaian, feminisme, politik, atau ada tidaknya kehidupan di galaksi lain. Namun kita sama dalam satu hal, berkata-kata. Kita menyetujui bahwa ia ada meski sungguh tak ada wujudnya. Kata-kata ada karena kita menyetujuinya bersama. Kata-kata adalah bukti paling nyata bahwa manusia adalah makhluk sosial, tidak dapat hidup hanya dengan kata-katanya sendiri. Kata-kata harus dibagi. Bersama kata-kata, manusia bertoleransi. Kata-kata adalah konsep abstrak mengenai ekistensi dengan eksistensinya sendiri. Kata-kata menyatukan sekaligus memisahkan. Kata-kata, terbukti selama berabad-aba...