Pada detik-detik yang melar dan merangkak ini, hujan merintik perlahan dengan diam dalam sunyi.
Merupa tiada, hanya memperlihatkan dirinya sebagai gemerisik di antara dedaunan pohon nangka dan tetesan air di pelimbahan genteng tetangga.
Pada sore yang abu-abu nan syahdu ini, kupikir aku mau berteman dengan hujan.
Berdamai dengan gigilnya yang membuat ngilu sekaligus candu.
Mungkin tidak sebagai kawan tempat berbagi pelukan dan meminta dekapan.
Hanya sebatas teman duduk berdampingan yang saling berbagi bahan perenungan.
Mungkin itu saja sudah cukup bagi kami.
Bagiku dan hujan.
Mungkin tidak perlulah bagi hujan menggelitiki basah lengan dan kakiku.
Dan tidak perlu aku meninju-ninju lucu.
Cukup bagi kami untuk saling menyapa pada satu dua rintik pertama.
Lalu biarkan kami sekedar duduk bersama, melebur dalam waktu namun tidak ruang yang sama.
Merupa tiada, hanya memperlihatkan dirinya sebagai gemerisik di antara dedaunan pohon nangka dan tetesan air di pelimbahan genteng tetangga.
Pada sore yang abu-abu nan syahdu ini, kupikir aku mau berteman dengan hujan.
Berdamai dengan gigilnya yang membuat ngilu sekaligus candu.
Mungkin tidak sebagai kawan tempat berbagi pelukan dan meminta dekapan.
Hanya sebatas teman duduk berdampingan yang saling berbagi bahan perenungan.
Mungkin itu saja sudah cukup bagi kami.
Bagiku dan hujan.
Mungkin tidak perlulah bagi hujan menggelitiki basah lengan dan kakiku.
Dan tidak perlu aku meninju-ninju lucu.
Cukup bagi kami untuk saling menyapa pada satu dua rintik pertama.
Lalu biarkan kami sekedar duduk bersama, melebur dalam waktu namun tidak ruang yang sama.
Comments
Post a Comment