Ia menjauhkan dua hati dan
membiaskan arti. Ia menggantikan kekosongan dan mengaburkan kenangan. Menyusup
perlahan hingga membentang seluas lapangan. Teman terbaik waktu dalam hal
merebutmu. Ia yang setia menggantikan ketidakhadiranmu, merampas sedikit
realita tempatku berpijak, mendesak dan mendepak. Namanya jarak.
Soal jarak menjarak ini
sungguh delusional. Seringkali batasnya tidak masuk akal. Kadang jauhnya hanya
sejengkal, namun memisahkan dua hati dari pangkal ke pangkal. Kadang panjangnya
antara sudut ruangan. Namun mampu menggelarkan harapan.
Sungguh ternyata jarak ini
begitu variatif. Rentangnya tentatif dan fluktuatif, namun memisahkan secara
aktif.
Sungguh ternyata jarak ini
kekal adanya, berbaur antara nyata dan fana.
Seolah-olah estimasi tak berarti lagi
ReplyDeleteDi tunggu karya" selanjutnya :)